Mengapa Hidup Kini Terasa Lebih Buruk: Dampak Pandemi yang Berkepanjangan

11

Perasaan bahwa kehidupan menjadi lebih baik sebelum Maret 2020 tersebar luas, dan para ahli mengatakan bahwa ini bukan sekadar pembicaraan tentang nostalgia. Meskipun kondisi obyektif belum tentu memburuk bagi semua orang, dampak psikologis kolektif dari pandemi ini terus mempengaruhi cara kita memandang dunia. Ini bukan tentang kacamata berwarna mawar; ini tentang perubahan mendasar dalam persepsi kita tentang keselamatan, stabilitas, dan koneksi.

Duka yang Belum Diproses

Pandemi COVID-19 bukan hanya krisis kesehatan; itu adalah periode kesedihan yang sangat besar dan meluas. Hampir 850.000 orang Amerika meninggal pada tahun 2020-2021 saja, seringkali dengan keluarga yang dilarang masuk rumah sakit dan ritual berkabung tradisional terganggu. Hal ini telah menyebabkan kesedihan yang berkepanjangan dan rumit bagi banyak orang, dimana rasa kehilangan masih terus terasa bahkan bertahun-tahun kemudian. Namun kesedihannya tidak terbatas pada kematian. Pandemi ini juga mengakibatkan hilangnya pekerjaan, isolasi, dan terganggunya rutinitas, sehingga menciptakan trauma kolektif yang terus bergema.

“Jutaan orang meninggal di seluruh dunia, dan bahkan jika Anda tidak kehilangan siapa pun secara pribadi, Anda masih menderita kesedihan… karena ini bukan hanya tentang siapa yang telah kehilangan Anda, namun apa yang telah hilang dari Anda.”

Trauma dan Erosi Keamanan

Pandemi ini pada dasarnya bersifat traumatis. Guncangan yang tiba-tiba berupa kematian yang meluas, ketidakstabilan ekonomi, dan ketakutan menciptakan rasa kerentanan yang luar biasa. Trauma tidak mengikuti garis waktu. Bahkan bertahun-tahun kemudian, otak masih sangat waspada terhadap bahaya, sehingga semakin sulit untuk merasa aman. Hal ini mengubah cara kita berinteraksi dengan orang lain, mengubah orang asing menjadi ancaman potensial dan dunia menjadi tempat yang lebih tidak menentu.

Pergeseran ini semakin diperparah oleh kenyataan bahwa pandemi ini tidak mempunyai tanggal berakhir yang jelas. Bahkan saat ini, COVID masih terus berlanjut, dan dampak kesehatan jangka panjang terus berdampak pada jutaan orang. Ketidakpastian yang berkepanjangan ini menghalangi terjadinya penutupan yang memungkinkan terjadinya pemulihan yang sebenarnya.

Meningkatnya Perjuangan Kesehatan Mental

Pandemi ini memicu lonjakan signifikan masalah kesehatan mental. Tingkat kecemasan dan depresi meningkat sebesar 25% secara global, dan meskipun angka-angka ini terus menurun, dampak buruknya masih tetap ada. Ketidakamanan perumahan, kehilangan pekerjaan, dan isolasi sosial yang disebabkan oleh pandemi semuanya berkontribusi terhadap krisis ini, dan banyak dari masalah tersebut masih berlanjut hingga saat ini.

Kenormalan Baru dalam Isolasi

Pandemi ini mempercepat tren menuju isolasi. Pekerjaan jarak jauh, janji temu online, dan hiburan digital memudahkan kita untuk memutuskan hubungan dengan dunia fisik. Kenyamanan ini harus dibayar dengan konsekuensinya: berkurangnya interaksi sosial, yang sangat penting bagi kesejahteraan mental. Saat ini kita memiliki infrastruktur yang mendukung isolasi, sehingga lebih sulit untuk kembali ke tingkat keterlibatan sosial sebelum pandemi.

Rasa Stabilitas yang Terdistorsi

Ingatan kita bersifat selektif. Sebelum tahun 2020, hidup tidaklah sempurna; kesulitan, kerugian, dan masalah sistemik ada. Namun dunia sebelum pandemi terasa lebih stabil karena otak kita mengasosiasikannya dengan prediktabilitas. Trauma tahun 2020 menghancurkan ilusi tersebut, meninggalkan kita dengan perasaan ketidakstabilan dan kerentanan yang masih ada.

Gagasan untuk “kembali normal” hanyalah sebuah mitos. Sesuatu yang mendasar telah berubah, dan mengabaikan kenyataan tersebut hanya akan memperpanjang ketidaknyamanan. Dunia telah berubah, dan sistem saraf kita masih melakukan penyesuaian.

Untuk melangkah maju, sangat penting untuk mengakui trauma yang sedang terjadi ini, mencari dukungan jika diperlukan, dan dengan sengaja membangun kembali hubungan dengan dunia di sekitar kita. Hidup mungkin tidak akan pernah terasa persis seperti sebelumnya, tetapi memahami dampak pandemi ini adalah langkah pertama menuju menemukan stabilitas baru.