Kecemasan Anak dan Uang: Mengapa Beberapa Remaja Terlalu Khawatir dan Bagaimana Orang Tua Dapat Membantu

19

Banyak orang tua berasumsi bahwa anak-anak tidak menyadari tekanan finansial, namun semakin banyak anak dan remaja yang benar-benar mengalami kecemasan terhadap uang. Mulai dari menolak liburan hingga memeriksa tagihan belanjaan, hal ini bukan sekadar “berhemat” – namun merupakan tanda kegelisahan yang lebih dalam. Permasalahan ini lebih umum terjadi daripada yang disadari banyak orang, dimana orang tua melaporkan bahwa anak-anak mereka yang masih duduk di bangku kelas empat SD menunjukkan kehati-hatian finansial yang ekstrim.

Mengapa Khawatir? Ini Bukan Hanya Tentang Uang

Para ahli mengatakan anak-anak belum tentu cemas dengan uang yang dikeluarkan. Sebaliknya, mereka bereaksi terhadap penyebab ketegangan yang mereka alami – rencana yang dibatalkan, percakapan yang tegang, atau ekspresi khawatir orang tua ketika pengeluaran tak terduga muncul. Anak-anak menyerap isyarat ini bahkan ketika orang tua mengira mereka menyembunyikan kesulitan keuangan.

Kaum muda saat ini juga sangat sadar akan ketidakstabilan ekonomi yang lebih luas. Mereka mendengar tentang PHK, inflasi, dan AI yang menggantikan pekerjaan. Hal ini menyebabkan beberapa orang merasa terlalu dini bertanggung jawab atas keamanan finansial keluarga mereka.

“Anak-anak sangat terbiasa dengan dunia di sekitar mereka sehingga mereka mengalami tekanan finansial bahkan ketika orang tua mengira mereka menyembunyikannya.” – Lindsay Bryan-Podvin, Terapis Keuangan

Dampak Komunikasi Orang Tua (dan Penghindaran)

Cara orang tua membicarakan uang—atau menghindari topik itu sama sekali—adalah hal yang penting. Keheningan seputar keuangan dapat menandakan rasa malu atau takut, sehingga memperkuat kecemasan anak. Sebaliknya, membagi setiap pengeluaran secara berlebihan (seperti tagihan dokter hewan atau belanjaan) dapat membuat mereka kewalahan dengan kekhawatiran yang tidak perlu.

Bahkan keluarga yang kaya secara finansial pun dapat memicu kecemasan jika anak-anak membandingkan gaya hidup mereka dengan orang lain, dengan berasumsi bahwa situasi mereka sendiri lebih buruk daripada yang sebenarnya. Kuncinya adalah keseimbangan: transparansi mengenai keuangan yang relevan (dana kuliah, anggaran musim panas) tanpa membebani mereka dengan kekhawatiran orang dewasa.

Yang Dapat Dilakukan Orang Tua: Pendekatan Empat Langkah

Daripada menganggap sikap berhemat pada anak hanya sekedar berhemat, orang tua harus mengatasi akar permasalahannya. Terapis keuangan Lindsay Bryan-Podvin merekomendasikan:

  1. Ajukan Pertanyaan Langsung: Jangan berasumsi Anda mengetahui kekhawatirannya. Tanyakan, “Apa yang secara spesifik menjadi perhatian Anda?” atau “Apa yang Anda khawatirkan akan terjadi?”
  2. Komunikasi yang Penuh Perhatian: Hindari ungkapan seperti “uang tidak tumbuh di pohon” yang menyiratkan kelangkaan atau rasa malu.
  3. Membangun Literasi Finansial: Memberi remaja akses terkendali terhadap uang (melalui aplikasi seperti Cash App Families) untuk mempraktikkan penganggaran dan pengambilan keputusan.
  4. Cari Bantuan Profesional: Jika kecemasan mengganggu kehidupan sehari-hari (sekolah, pekerjaan rumah), terapis dapat mengatasi masalah kesehatan mental yang mendasarinya.

Pada akhirnya, membantu anak yang mengalami kecemasan terhadap uang berarti menciptakan ruang yang aman untuk mendiskusikan keuangan secara terbuka, tanpa menghakimi. Mengakui ketakutan mereka, bukan mengabaikannya, adalah langkah pertama untuk menenangkan pikiran mereka.