Tulang Bisa ‘Berolahraga’ Tanpa Gerakan: Jalur Obat Baru Terbuka untuk Osteoporosis

14

Sebuah penelitian inovatif telah mengidentifikasi protein kunci yang memungkinkan tulang merespons aktivitas fisik, bahkan tanpa gerakan sebenarnya. Para peneliti di Universitas Hong Kong (HKUMed) telah menemukan bahwa protein yang disebut Piezo1 bertindak sebagai “sensor olahraga” di sumsum tulang, memicu pertumbuhan tulang ketika diaktifkan. Temuan ini membuka pintu bagi pengobatan potensial yang meniru manfaat olahraga bagi individu yang tidak dapat melakukan aktivitas fisik, seperti orang lanjut usia, pasien yang terbaring di tempat tidur, atau mereka yang menderita penyakit kronis.

Masalahnya: Keropos Tulang Terkait Usia

Osteoporosis dan pengeroposan tulang yang berkaitan dengan usia merupakan masalah kesehatan global yang utama. Sekitar sepertiga wanita dan seperlima pria berusia di atas 50 tahun akan menderita patah tulang karena melemahnya tulang. Kondisi ini berdampak pada jutaan orang di seluruh dunia, menyebabkan rasa sakit kronis, berkurangnya mobilitas, dan beban pada sistem layanan kesehatan. Di Hong Kong, hampir separuh perempuan dan 13% laki-laki berusia di atas 65 tahun terkena dampaknya.

Seiring bertambahnya usia, kepadatan tulang menurun karena sel induk sumsum tulang beralih dari membangun jaringan tulang menjadi menumpuk lemak. Lemak ini mengganggu tulang yang sehat, sehingga mempercepat kerusakan. Perawatan saat ini sering kali mengandalkan aktivitas fisik, yang tidak selalu menjadi pilihan bagi pasien yang rentan.

Cara Kerja Piezo1 sebagai Sensor Latihan Tubuh

Penelitian yang diterbitkan dalam Signal Transduction and Targeted Therapy ini mengidentifikasi Piezo1, sebuah protein pada permukaan sel induk sumsum tulang, sebagai penghubung penting antara kekuatan fisik dan kesehatan tulang. Saat diaktifkan melalui gerakan, Piezo1 mengurangi penumpukan lemak dan meningkatkan pembentukan tulang.

Percobaan dengan sel tikus dan manusia menunjukkan bahwa tanpa Piezo1, sel induk lebih cenderung menjadi lemak, dan sinyal inflamasi (Ccl2 dan lipocalin-2) semakin menghambat pertumbuhan tulang. Memblokir sinyal-sinyal ini akan membalikkan sebagian kerusakan.

Meniru Latihan Melalui Narkoba

“Kami pada dasarnya telah menguraikan bagaimana gerakan menghasilkan tulang yang lebih kuat pada tingkat molekuler,” kata Profesor Xu Aimin, peneliti utama studi tersebut. Mengaktifkan jalur Piezo1 secara kimiawi dapat mengelabui tubuh agar mengira ia sedang berolahraga, bahkan saat tidak ada gerakan.

Terobosan ini menyarankan pengembangan “mimetik olahraga” – obat yang menstimulasi Piezo1 untuk mempertahankan massa tulang pada mereka yang tidak dapat berolahraga. Wang Baile, salah satu pemimpin penelitian ini, menekankan potensi manfaat bagi pasien yang lemah, terluka, atau sakit kronis.

Aplikasi dan Kolaborasi di Masa Depan

Tim peneliti sekarang berupaya menerjemahkan temuan ini ke dalam terapi klinis. Kolaborator dari Pusat Penelitian Ilmiah Nasional Perancis (CNRS) dan lembaga lain menyoroti kemungkinan penerapan yang lebih luas di luar terapi fisik.

Penelitian ini didukung oleh berbagai sumber pendanaan, termasuk Research Grants Council, Health and Medical Research Fund of Hong Kong, dan program nasional di Tiongkok dan Perancis.

Penemuan ini mewakili langkah signifikan menuju pencegahan patah tulang akibat osteoporosis dan meningkatkan kualitas hidup populasi rentan dengan menyediakan alternatif potensial terhadap pengobatan tradisional berbasis olahraga.