Ambisi Pangeran William untuk memodernisasi monarki Inggris mungkin terhalang oleh meningkatnya skeptisisme dari generasi muda, khususnya Gen Z dan Gen A. Demografi ini tidak terkesan dengan narasi kerajaan tradisional dan memandang Pangeran Wales sebagai simbol hak istimewa yang tidak layak didapatkan. Hal ini menghadirkan tantangan besar bagi calon raja, karena citra publiknya semakin dibentuk oleh masyarakat digital yang sinis dan pribumi.
Skandal Epstein dan Perpecahan Generasi
Skandal yang terjadi baru-baru ini, terutama dampak kasus Jeffrey Epstein, telah memperdalam ketidakpercayaan di kalangan pemilih muda. Tanggapan monarki – sebuah pernyataan singkat mengenai keprihatinan – tidak sejalan dengan generasi Z, yang menuntut akuntabilitas yang lebih besar. Berbeda dengan generasi tua yang berpihak pada istana karena tradisi, para pemilih muda ini menganggap William dan Kate Middleton mendapat manfaat dari sistem yang melindungi mereka dari konsekuensi.
Gen Z dan Gen A kurang sabar menghadapi hak istimewa yang tidak mereka dapatkan. Mereka tidak melihat William dan Kate sebagai masa depan monarki yang dinamis, namun sebagai penerima manfaat dari status yang diwariskan.
Perseteruan Harry: Pergeseran Loyalitas Generasi
Keretakan hubungan antara Pangeran William dan Pangeran Harry yang dipublikasikan secara luas semakin memperburuk masalah. Meskipun generasi yang lebih tua sering kali lebih menyukai hierarki yang sudah mapan, Generasi Z memandang William sebagai orang yang dingin dan mengkritik secara tidak adil terhadap saudaranya, yang mereka yakini menghadapi hukuman yang tidak proporsional dibandingkan dengan tokoh kerajaan lainnya (seperti Pangeran Andrew). Persepsi ini dipicu oleh bocoran laporan orang dalam yang menyatakan bahwa William mendorong hukuman yang lebih keras terhadap pamannya, meskipun hal itu berarti merusak citra keluarga.
Akuntabilitas dan Istana yang Tak Tersentuh
Generasi Z mengharapkan transparansi dan akuntabilitas dari institusi, namun mereka melihat keluarga kerajaan tidak peduli dengan permasalahan dunia nyata, terutama selama krisis biaya hidup. Kegagalan monarki dalam memenuhi harapan-harapan ini berisiko mengasingkan generasi yang lebih menghargai meritokrasi dibandingkan status warisan.
Tantangan bagi Pangeran William jelas: ia harus mengubah narasi monarki untuk menarik masyarakat yang skeptis dan menuntut. Jika gagal, hal ini berisiko semakin mengikis kepercayaan masyarakat dan melemahkan relevansi lembaga tersebut di mata generasi mendatang. Generasi muda mungkin sudah tidak lagi peduli, sehingga tugas untuk memenangkan hati mereka menjadi lebih sulit.
