Hormon Seks dan Risiko Penyakit Jantung: Mengapa Diabetes Mempengaruhi Pria dan Wanita Secara Berbeda

11

Penelitian baru menyoroti mengapa diabetes tipe 2 meningkatkan risiko penyakit jantung secara berbeda pada pria dan wanita. Sebuah studi yang dipimpin oleh Dr. Wendy Bennett di Fakultas Kedokteran Universitas Johns Hopkins menemukan bahwa tingkat hormon memainkan peran yang signifikan, namun berbeda, dalam kesehatan kardiovaskular untuk setiap jenis kelamin. Temuan ini dapat mengarah pada strategi pencegahan yang lebih personal.

Fluktuasi Hormon sebagai Faktor Kunci

Para peneliti menganalisis data dari studi jangka panjang Look Ahead, yang melacak partisipan penderita diabetes tipe 2 selama beberapa tahun. Dengan memeriksa sampel darah, mereka menilai bagaimana perubahan kadar hormon berkorelasi dengan risiko penyakit jantung di masa depan. Tujuannya adalah untuk menentukan apakah perubahan hormonal dapat memprediksi hasil kardiovaskular.

Efek Kontras pada Pria vs. Wanita

Studi ini mengungkapkan perbedaan yang mencolok:

  • Pria: Kadar testosteron yang lebih tinggi pada awal penelitian dikaitkan dengan lebih rendah risiko penyakit jantung. Sebaliknya, peningkatan estradiol (salah satu bentuk estrogen) selama satu tahun dikaitkan dengan risiko lebih tinggi.
  • Wanita: Tidak ditemukan hubungan jelas antara kadar hormon dan dampak kardiovaskular. Hal ini menunjukkan bahwa faktor lain mungkin lebih dominan pada wanita penderita diabetes.

Hasil ini menyoroti bahwa interaksi antara hormon dan penyakit jantung tidak bersifat universal; itu khusus untuk jenis kelamin. Hal ini penting karena pedoman pencegahan saat ini sering kali memperlakukan pria dan wanita dengan cara yang sama, meskipun terdapat perbedaan biologis yang mendasar.

Implikasi terhadap Pengobatan yang Dipersonalisasi

Dr Bennett percaya bahwa pelacakan hormon seks dapat melengkapi faktor risiko yang ada seperti kolesterol dan merokok. “Hasilnya dapat membantu dokter mempersonalisasikan strategi pencegahan penyakit jantung di masa depan,” katanya. Tim juga berencana untuk menyelidiki bagaimana perubahan hormon mempengaruhi kesehatan tulang dan risiko patah tulang pada penderita diabetes. Selain itu, mereka akan mempelajari perubahan hormonal selama perimenopause dan dampaknya terhadap kesehatan jantung.

Pendanaan dan Pengungkapan

Penelitian ini didanai oleh Institut Kesehatan Nasional. Beberapa rekan penulis memiliki afiliasi industri: Dr. Clark telah berkonsultasi dengan Boehringer Ingelheim dan Novo Nordisk, sementara Dr. Michos telah menjabat sebagai konsultan untuk banyak perusahaan farmasi. Pengungkapan ini bertujuan untuk menjaga transparansi dalam penelitian medis.

Pada akhirnya, temuan ini menunjukkan bahwa diperlukan pendekatan yang lebih berbeda dalam pencegahan penyakit jantung terkait diabetes. Mengabaikan perbedaan biologis antara pria dan wanita dapat berarti hilangnya peluang untuk melakukan intervensi dini dan mendapatkan hasil yang lebih baik bagi pasien.